Kenapa Jogja masih “PANAS”

Entah kenapa jogja masih panas, disaat kota-kota lain sudah mulai hujan dan mendung, Jogja tetap panas. Panas terasa sejak pukul 9.00 pagi sampai dengan pukul 17.00. Seakan malas untuk keluar rumah mengingat panasnya terik matahari. Ditambah lagi dengan jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas jalan, membuat rasa untuk keluar rumah semakin malas.

Memang musim panas kali ini terasa lebih panjang di Jogja, seakan tak henti-hentinya cobaan terhadap kota pelajar ini, bukan bermaksud untuk mencari penyebab mengapa dan bagaimana, tetapi apa yang sedang terjadi sekarang. Hanya tempat-tempat tertentu di jogja yang terasa ‘Adem’ bagi penghuninya, seperti Pathok, Kaliurang dan wilayah yang dengan ketinggian diatas rata-rata.

Tapi anehnya, kalau malam hari, dingin menusuk lebih dingin daripada musim hujan. Saya sempat terkena flu 2 x akibat cuaca yang tidak menentu seperti ini. Setelah siang hari berpanas panas, eh … malam harus menikmati dinginnya yang menusuk tulang. ATM atau tempat umum berAC lainnya menjadi tempat perlindungan dadakan disaat panas itu sedang pada tingkat tertingginya. Kemacetan agaknya bukan lagi sarapan Malioboro dan sekitarnya, tetapi Jl. Laksda adisucipto juga sudah mulai dirambah kemacetan, bayangkan jika pada saat itu waktu sedang menunjukkan pukul 13.00.

Mudah – mudahan bulan depan musim hujan sudah datang dan jogja bisa tersenyum lagi karena buminya basah. I love you Jogja

Ditulis dalam Umum. 2 Komentar »

2 Tanggapan ke “Kenapa Jogja masih “PANAS””

  1. dhany Says:

    masa panas sih,
    aku akan coba minggu ini kesana

  2. eenx Says:

    bener kok, hujan paling sehari dua hari aja. Tapi jogja tetap indah


Tinggalkan Balasan